Pegiat Pengendalian Rokok di Bali Desak PP 109 Tahun 2012 Direvisi

- 5 Desember 2020, 19:28 WIB
 Ketua Udayana Central (Center for Non Communicable Diseases, Tobacco Control and Lung Health) I Made Kerta Duana
Ketua Udayana Central (Center for Non Communicable Diseases, Tobacco Control and Lung Health) I Made Kerta Duana /Dok Rohmat

Menurutnya, meningkat atau massifnya perokok pada anak sangat dipengaruhi banyak faktor salah satunya, kemudahan akses dan daya beli.

"Jadi, ini harus berbarengan ada upaya yang jelas untuk menurunkan perokok pada anak," Duana menegaskan.

Baca Juga: Mahasiswi Bunuh Diri Lompat Dari Lantai 4, Sempat Tanya Kalau Jatuh Apa Bisa Meninggal...

Kemampuan untuk daya beli, harus juga diperhatikan dalam hal ini, diharapkan harga rokok harus dipatok mahal sehingga tidak terjangkau oleh anak-anak. Saat ini, harga rokok relatif murah kisaran Rp25 ribu sehingga dalam perhitungan yang dilakukan, setidaknya dinaikkan hingga Rp50 ribu.

Selain itu, yang paling penting disoroti, adalah bagaimana masuknya iklan promosi sponsorship dari industri rokok yang begitu massif ke daerah-daerah akhirnya mendorong anak-anak untuk menjadi perokok pemula.

Baca Juga: Residivis Ditangkap, Coba Perkosa 4 Perempuan Mau ke Pasar Menjelang Subuh

Pemerintah harus lebih tegas dalam menerbitkan regulasi misalnya dalam pengaturan iklan rokok dalam ruang dan luar ruang, agar tidak mudah diakses anak-anak.

 

Sementara itu, Sekretaris Perhimpunan Ahli Epidomologi Cabang Bali dr I Wayan Gede Artawan mengungkapkan tingkat kepatuhan tempat-tempat tertentu seperti hotel dan restoran, pasar tradisional lainnya dalam pengendalian KTR masih rendah.

"Tingkat kepatuhan tempat hiburan seperti di Kabupaten Badung juga sangat rendah," imbuhnya.(***)

Halaman:

Editor: Shira Ade


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah