Jumlah Korban Tewas di Gaza Meningkat, Israel Dituntut Lindungi Warga Sipil Palestina

- 11 November 2023, 10:02 WIB
Seorang wanita menggendong seorang gadis bereaksi setelah serangan udara Israel menghantam lingkungan Ridwan di Kota Gaza, Gaza pada 23 Oktober 2023.
Seorang wanita menggendong seorang gadis bereaksi setelah serangan udara Israel menghantam lingkungan Ridwan di Kota Gaza, Gaza pada 23 Oktober 2023. /ANTARA/Ali Jadallah/Anadolu/pri/

INDOBALINEWS - Israel terus mendapatkan tuntutan dari masyarakat internasional terkait meningkatnya jumlah korban jiwa masyarakat sipil Palestina imbas konflik di Jalur Gaza.

Tuntutan itu juga termasuk dari sekutu utamanya Amerika Serikat, yang meminta untuk berbuat lebih banyak guna melindungi warga sipil Palestina di Gaza. Terlebih, ketika jumlah korban tewas meningkat dan pertempuran antara pasukan Israel dengan militan Hamas di dekat dan sekitar rumah sakit.

Seruan global agar Israel menahan diri meningkat ketika jumlah warga Palestina yang terbunuh meningkat di atas 11.000 orang dalam pemboman Israel selama lima minggu yang dilancarkan terhadap Hamas sebagai pembalasan atas serangan mematikan mereka pada 7 Oktober 2023 lalu, di Israel selatan.

Baca Juga: Ini Kota Terpanas Terpanjang di Indonesia dan Dunia, Berikut Penyebabnya

Dalam komentarnya yang paling keras hingga saat ini mengenai penderitaan warga sipil yang terjebak dalam baku tembak di Gaza, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, mengatakan kepada wartawan saat berkunjung ke India pada hari Jumat, 10 November 2023 kemarin.

"Terlalu banyak warga Palestina yang terbunuh, terlalu banyak yang menderita akibat ini beberapa minggu terakhir," ucap Menlu AS Antony Blinken dilansir Reuters, Sabtu, 11 November 2023.

Blinken menyambut baik jeda kemanusiaan selama empat jam setiap hari yang dilakukan Israel yang diumumkan Gedung Putih pada hari Kamis, 9 November 2023, dan mengatakan diperlukan lebih banyak tindakan untuk melindungi warga sipil Gaza.

Namun meski demikian, Blinken menegaskan kembali dukungan AS terhadap kampanye Israel untuk memastikan bahwa Gaza tidak lagi digunakan “sebagai platform untuk meluncurkan terorisme.”

Baca Juga: Pasukan AS Mendapat Kecaman di Timur Tengah Ketika Konflik Israel-Palestina Semakin Memanas

Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dalam wawancara dengan BBC yang diterbitkan Jumat, 10 November 2023 malam, mengatakan Israel harus berhenti membom Gaza dan membunuh warga sipil. Perancis, katanya, “jelas-jelas mengutuk” tindakan “teroris” Hamas, namun meskipun mengakui hak Israel untuk melindungi diri mereka sendiri.

“Kami mendesak mereka untuk menghentikan pemboman ini di Gaza," tegas Emmanuel Macron.

Sebagai tanggapan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan para pemimpin dunia seharusnya mengutuk Hamas, bukan Israel.

“Kejahatan yang dilakukan Hamas hari ini di Gaza akan dilakukan besok di Paris, New York, dan di mana pun di dunia,” kata Netanyahu.

Israel mengatakan bahwa militan Hamas, yang menyandera 240 warga negara berbeda yang diculik dalam serangan bulan lalu, akan memanfaatkan gencatan senjata untuk berkumpul kembali jika ada kesempatan gencatan senjata.

Baca Juga: Rudal Anti-Kapal Hizbullah Meningkatkan Ancamannya terhadap Angkatan Laut AS

Sementara itu, Arab Saudi akan menjadi tuan rumah pertemuan puncak gabungan Islam-Arab yang luar biasa di Riyadh pada hari Sabtu, 11 November 2023, kata Kementerian Luar Negeri Saudi.

"Pertemuan gabungan tersebut akan diadakan sebagai tanggapan terhadap keadaan luar biasa yang terjadi di Jalur Gaza Palestina ketika negara-negara merasa perlu untuk menyatukan upaya dan mengambil sikap kolektif yang bersatu,” katanya.**

Editor: Wildan Heri Kusuma

Sumber: Reuters


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah