Dugaan Penularan Covid-19 Dari Makanan Beku, BPOM Amerika Menjawab

22 Februari 2021, 08:38 WIB
ilustrasi makanan beku. /Shira Ade indobalinews

 

INDOBALINEWS - Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah konferensi pers Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan pernyataan soal paket makanan beku sebagai kemungkinan sumber penularan virus corona atau covid-19.

Dan tim WHO masih mempertimbangkan jalur penularan teoritis ini. Anggota Tim WHO Peter Daszak juga mengatakan masih menyelidiki asal usul pandemi ini, 

Ia juga menegaskan tetap berpikiran terbuka tentang apa yang memicu penyebaran COVID-19 di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di Wuhan.

Baca Juga: Gerai Mie Ramai Pengunjung Abaikan Prokes, Ditertibkan Satpol PP

Menanggapi hal ini Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengungkapkan tak setuju dengan kemungkinan ini. 

FDA mengabaikan gagasan itu dan menegaskan kembali risiko tertular SARS-CoV-2 dari makanan atau kemasan makanan sangat rendah.

Baca Juga: Evakuasi Korban Banjir, Kapolsek Gendong Emak-Emak

Dikatakan FDA hingga saat ini tidak ada bukti kredibel SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19 bisa ditularkan melalui makanan atau kemasan makanan yang terkontaminasi.

Dikatakannya virus corona menyebar dari orang ke orang melalui tetesan pernapasan yang menyembur dari mulut dan hidung.

Baca Juga: Intip Lapak Ganjar Yang Rangkul UMKM Dari Jabar Hingga Bali

"Sangat penting untuk dicatat COVID-19 adalah penyakit pernapasan yang menyebar dari orang ke orang, tidak seperti virus bawaan makanan atau saluran pencernaan, seperti norovirus dan hepatitis A yang sering membuat orang sakit melalui makanan yang terkontaminasi," kata Komisioner Makanan dan Obat FDA, Dr. Janet Woodcock dalam pernyataan tertulisnya seperti dikutip dari Livescience, Sabtu 20 FEbruari 2021.

Dia mengatakan, mengingat lebih dari 100 juta kasus COVID-19, belum ada bukti epidemiologis makanan atau kemasan makanan sebagai sumber penularan SARS-CoV-2 ke manusia.

Baca Juga: Akhirnya Ayus Buka Suara, Viral Dugaan Cinta Terlarangnya Dengan Nissa Sabyan

Sebelumnya, ilmuwan di China mengaitkan makanan beku dengan wabah COVID-19 di Pasar Xinfadi di Beijing musim panas lalu, setelah menemukan virus corona pada ikan kod beku dalam kemasan.

Namun, menurut Woodcock, menemukan virus pada makanan dan kemasan tidak memberikan bukti langsung manusia terinfeksi virus dari produk yang terkontaminasi untuk benar-benar tertular COVID-19.

Baca Juga: 3 Orang Hilang Saat Memancing, Keluarga Ikhlas Tim SAR Hentikan Pencarian Dihari Ke-7

Selain itu, kasus virus corona yang terkait dengan Pasar Xinfadi terjadi pada pekerja gudang dan pekerja pelabuhan yang telah menangani pengiriman daging dan makanan laut beku internasional dalam jumlah besar.

"China belum memiliki laporan konsumen, bahkan kecurigaan, konsumen yang terinfeksi melalui rute ini," kata ahli mikrobiologi di Rutgers New Jersey Medical School, Emanuel Goldman kepada NPR seperti yang dikutip indobalinews.com dari antaranews.

Baca Juga: Bayi Dibuang Dalam Kardus Lengkap dengan Kendi Ari-Ari, di Pinggir Jalan

Di Pasar Xinfadi, makanan beku tiba dalam palet besar dalam kondisi dingin. Suhu dingin yang terus-menerus secara teoritis dapat membantu melestarikan virus dan meningkatkan risiko penularan bagi pekerja gudang.

Goldman juga mengatakan dalam keadaan ini, risiko penularan dari makanan beku masih sangat kecil.

Baca Juga: Ingin Sperma Berkualitas Kuat dan Sehat ? Jaga 6 Asupan Ini

Lebih lanjut FDA mengatakan untuk menjadi terinfeksi, seseorang perlu menghirup sejumlah besar partikel virus corona hidup. Sementara jumlah partikel yang mungkin terhirup dari makanan atau kemasan yang terkontaminasi akan sangat kecil

Walau begitu, menerapkan kebersihan pribadi dan keamanan makanan bisa mengurangi risiko penularan SARS-CoV-2 dari makanan atau paket. Perilaku ini termasuk mencuci tangan sebelum menangani makanan dan membilas produk dengan air.

Baca Juga: Kurang Lengkap Berkas Kasus Video 19 Detik Gisel Dikembalikan Kejaksaan

Anda juga bisa mencuci tangan setelah memegang kemasan makanan atau tas bungkus makanan agar lebih aman.***

Editor: Shira Ade

Sumber: antaranews LiveScience

Tags

Terkini

Terpopuler